Perasa adalah sosok yang sangat percaya diri. Percaya bahwa dia memiliki rasa yang sama. Sosok yang membuang waktu hanya untuk mencari kabarnya, yang terus mengkhawatirkan nya, yang terus ingin mendengar suaranya, yang terus ingin melihat senyum dan tawanya.
Bagaimana bisa dengan waktu yang begitu singkat aku mencintai nya selaksa kilat melintasi langit. Aku masih tetap di tempat yang sama, disampingnya. Dengan cinta yang semakin tumbuh, dengan beberapa sifat & sikap nya yang mengabaikan ku.
Dia begitu acuh dengan ku, seakan aku tak pernah ada, seakan aku tak terlihat. Namun aku tetap mencintainya seburuk apapun keadaan saat ini.
Bahkan aku tidak perduli apakah dia mencintaiku atau tidak. Hingga detik ini pun aku masih tidak memiliki nyali untuk menanyakan perasaan dia yang sesungguhnya dan membuatku gelisah setiap detik. Karna yang ku lihat memang dia tidak memiliki rasa yang aku rasakan. Satu hal yang membuatku sedih, dia tidak mengupayakan ku dengan semestinya.
Hatiku sempat mengatakan 'Sudahlah dia tidak menginginkan mu, dia hanya butuh teman ketika dia rindu seseorang, dia hanya butuh teman ketika dia sedang drop. Kamu hanya pelarian saja! jadi, hentikan saja rasa cinta mu itu!'
Namun dia mulai menguasai pikiran ku, pikiran yang lebih sering ku gunakan dari pada hati. Aku kira dia hanya sebatas penghuni hati yang tak lama singgah lalu pergi entah kemana, dia berhasil mengarungi seisi hatiku hingga mampu memanjatnya dan masuk ke dalam pikiran. Dia lebih dari yang ku kira.
Seringkali aku enggan menanyakan kabarnya, karena dia tidak begitu perduli dengan ku, karna terkadang sisi ego ku lebih besar.
Seringkali aku enggan memulai percakapan karna dia begitu suka menghilang tanpa sebab, karna terkadang aku pun menginginkannya mencariku juga.
Hati ku mulai ragu akan hubungan ini, karna apa yang dia ucapkan dengan apa yang dia lakukan sangat berbeda. Memang sedikit keraguan yang ku miliki, namun keraguan itu mengalahkan seribu keyakinan ku atas cinta yang pernah dia ungkapkan walaupun aku tahu itu tidak benar benar dia rasakan. Dia tidak benar-benar mengungkapkan perasaannya. itu hanya paksaan logika dia! iya, aku merasakan paksaan itu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar